Dengan mengusung tagline “Ada Kopi Ada Solusi”, gerakan tersebut hadir sebagai simbol kedekatan dengan masyarakat, ruang diskusi tanpa batas, serta komitmen mencari solusi nyata bagi berbagai persoalan di Kabupaten Cianjur.
Dalam keterangannya Kusnandar Ali, S.H., C.L.A dan Hendriansyah, S.H. kepada awak media, Rabu, (13/05/26) ia mengatakan bahwa pembangunan Cianjur tidak cukup hanya dengan janji, namun membutuhkan keberanian, kepedulian, dan pemimpin yang benar-benar hadir di tengah rakyat.
“Kami ingin membangun Cianjur dengan hati, mendengar langsung keluhan masyarakat dari warung kopi, pelosok desa, hingga pusat kota. Karena dari secangkir kopi lahir banyak solusi untuk perubahan,” ujarnya.
Ia menilai masih banyak persoalan yang harus dibenahi di Kabupaten Cianjur, mulai dari infrastruktur desa, lapangan pekerjaan, pendidikan, pelayanan kesehatan, hingga pemberdayaan ekonomi masyarakat kecil dan pelaku UMKM.
Gerakan “Anak Desa” sendiri disebut bukan sekadar slogan politik, melainkan bentuk semangat bahwa siapa pun memiliki kesempatan untuk membangun daerah tanpa memandang latar belakang.
“Anak desa bukan berarti tertinggal. Anak desa harus menjadi pelopor perubahan. Kami ingin membuktikan bahwa pemimpin yang lahir dari rakyat akan lebih memahami kebutuhan rakyat,” tambahnya.
Dengan semangat kebersamaan dan pendekatan sederhana melalui budaya ngopi bersama masyarakat, gerakan tersebut berharap mampu menjadi wadah aspirasi warga Cianjur untuk menciptakan pemerintahan yang lebih terbuka, jujur, dan berpihak kepada kepentingan masyarakat.
Tagline “Ada Kopi Ada Solusi” kini mulai ramai diperbincangkan di berbagai kalangan masyarakat, khususnya generasi muda yang menginginkan perubahan nyata bagi masa depan Cianjur.
Gerakan ini juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama membangun Cianjur yang lebih maju, aman, religius, serta memiliki daya saing di masa depan.
“2029 bukan hanya tentang politik, tetapi tentang harapan baru untuk Cianjur yang lebih baik.”











