CIANJUR — Puskesmas Sukanagalih, Kecamatan Pacet meluncurkan inovasi “Kampung Emas Mentari” sebagai upaya terintegrasi menekan anemia, stunting, serta Angka Kematian Ibu dan Bayi/AKI-AKB. Program berbasis kolaborasi Pentahelix itu resmi diperkenalkan Rabu, 20/8/2025.
Kepala Puskesmas Sukanagalih Utari Doriomas mengatakan, masalah gizi dan kematian ibu-bayi tidak bisa ditangani sektor kesehatan saja. Karena itu “Kampung Emas Mentari” mengintegrasikan peran kecamatan, pemerintah desa, kader, LSM, tokoh agama, swasta, akademisi, hingga media massa.
“Kunci utama keberhasilan Kampung Emas Mentari adalah gotong royong,” ujar Utari.
Inovasi ini sudah diterapkan sejak 2024 di kampung percontohan wilayah kerja Puskesmas Sukanagalih. Hasilnya, terjadi penurunan signifikan pada anemia ibu hamil dan remaja putri lewat pemantauan ketat serta edukasi nutrisi. Angka stunting juga turun berkat intervensi gizi spesifik dan sensitif yang dilakukan bersama lintas sektor.
Program ini juga menekan AKI dan AKB di wilayah kerja. Akses layanan kesehatan jadi lebih dekat, cepat, dan ramah. Warga pun mulai sadar pentingnya pemenuhan gizi, cek kehamilan rutin, dan PHBS.
Utari menyebut gagasan program ini berasal dari dr. Ardya Lucita, dokter umum yang bertugas di Puskesmas Sukanagalih. Ke depan, Puskesmas bersama seluruh aktor inovasi berkomitmen mengawal, mereplikasi, dan memperluas jangkauan program agar seluruh lapisan masyarakat merasakan dampaknya.
Targetnya jelas: mewujudkan generasi masa depan yang sehat, cerdas, dan bebas stunting.
Penulis : Andri.S
Editor : SLS














Komentar