Daerah

Dugaan Perselingkuhan Oknum Kepala Sekolah di Campaka Cianjur Mencuat

88
×

Dugaan Perselingkuhan Oknum Kepala Sekolah di Campaka Cianjur Mencuat

Sebarkan artikel ini

CIANJUR – Dugaan skandal perselingkuhan yang melibatkan seorang oknum Kepala Sekolah (KS) di wilayah Kecamatan Campaka, Kabupaten Cianjur, dengan seorang wanita bersuami kini mencuat ke publik. Kasus ini terungkap setelah JN mantan suami dari wanita tersebut membeberkan kronologi kejadian.

JN menceritakan bahwa kecurigaannya bermula saat ia tidak dapat menghubungi istrinya yang berada di rumah mereka di Cianjur. Saat dikonfirmasi ke pihak keluarga dan kerabat, keberadaan sang istri juga tidak diketahui.

Advertisement
Scroll kebawah untuk lihat konten

“Pagi harinya saya bergegas pulang ke rumah yang di Cianjur dan mendapati rumah masih terkunci. Tidak lama kemudian, mantan istri saya datang menggunakan taksi daring dengan pakaian terbuka,” ujarnya saat memberikan keterangan kepada awak media, Senin (11/5/2026).

Setelah memeriksa telepon genggam milik istrinya, ia menemukan riwayat percakapan dengan seorang pria yang diduga kuat merupakan salah satu kepala sekolah di Campaka. Ia juga menyebut mantan istrinya telah mengakui adanya hubungan terlarang tersebut.

“Saya tanya, dan mantan istri saya mengaku telah berhubungan badan sebanyak satu kali dengan pria itu,” tambahnya.

Meskipun persoalan domestik ini telah diselesaikan secara kekeluargaan di kantor polisi, pria yang kini telah resmi bercerai tersebut mengaku kecewa. Pihak pria yang diduga selingkuhan mantan istrinya itu dinilai kerap membuat unggahan media sosial yang bernada menghina dan merendahkan dirinya.

Di tempat terpisah, Kepala Sekolah yang bersangkutan membantah keras tudingan tersebut. Ia menegaskan tidak pernah menjalin hubungan, apalagi mengenal wanita yang dimaksud dalam isu tersebut.

“Bapak dapat kabar dari mana? Saya tidak kenal dengan wanita itu, apalagi berhubungan,” sanggahnya saat dikonfirmasi.

Ia juga meminta agar pihak media menyertakan bukti-bukti yang valid sebelum menaikkan pemberitaan, demi menjaga nama baik dan menghindari pencemaran nama baik atas informasi yang belum terbukti kebenarannya.

“Sebaiknya dicari dulu bukti-bukti yang akurat jika mau memberitakan. Karena jika peristiwa ini tidak benar namun beritanya sudah menyebar, dikhawatirkan akan merusak citra saya,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *