Berita

“Generasi Sandwich, Pilar Keluarga yang Rentan Terlupakan”

310
×

“Generasi Sandwich, Pilar Keluarga yang Rentan Terlupakan”

Sebarkan artikel ini

 

Lombok Tengah NTB – Di tengah kemajuan teknologi yang pesat saat ini, masalah-masalah kontemporer dalam keluarga menjadi sangat beragam. Salah satu isu yang paling banyak dibicarakan dan sedang hangat diperhatikan adalah fenomena generasi sandwich. Generasi sandwich Adalah anak muda yang harus menanggung tanggung jawab ganda dalam keluarga. Selain menjalani pendidikan, mereka juga ikut membantu memenuhi kebutuhan keluarga dan mendukung orang tua. Posisi ini membuat mereka memikul beban finansial dan emosional yang besar, meski pengorbanan mereka sering luput dari perhatian.

Advertisement
Scroll kebawah untuk lihat konten

fenomena generasi sandwich saat ini sudah menjadi hal yang lumrah, terutama di kalangan masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah. Generasi sandwich tidak hanya menyita masa remaja anak, tetapi juga menunjukkan

bagaimana banyak orang tua lupa akan hakikat dan batasan tanggung jawab seorang anak. Fenomena ini seringkali menjadi contoh dari kesalahan dalam pengasuhan dan pembagian tugas dalam keluarga. Namun, banyak kasus yang saya temui menunjukkan bahwa anak-anak tidak keberatan

membantu orang tua, menafkahi adik, atau anggota keluarga lain, bahkan menjadi tulang punggung keluarga karena kondisi memaksa mereka melakukannya. Meski demikian, pembagian tanggung jawab ini tetap berpotensi menimbulkan masalah baru, terutama ketika salah satu pihak merasa dirugikan atau terbebani.

Seperti banyak kasus yang dijelaskan oleh Jurnal Yoii (2025), hampir 48% masyarakat Indonesia termasuk generasi sandwich, terutama mereka yang berusia 20–29 tahun, yaitu usia produktif yang seringkali masih menghadapi tantangan finansial.Dalam hal ini teori yang paling relevan untuk membahas terkait generasi sandwich Adalah Teori Pertukaran Sosial oleh George C. Homans yang memandang hubungan antar individu sebagai bentuk pertukaran antara pengorbanan dan keuntungan

. Anak-anak atau remaja yang menjadi generasi sandwich memikul tanggung jawab besar dalam keluarga, mulai dari membantu membiayai kebutuhan adik, mendukung pendidikan, hingga merawat orang tua yang sudah lanjut usia.

Dalam pandangan ini, waktu, tenaga, dan kesempatan pribadi yang mereka korbankan menjadi “biaya” yang harus ditanggung, sementara imbalan berupa pengakuan atau dukungan seringkali tidak sebanding dengan usaha mereka. Teori pertukaran sosial juga menekankan bahwa hubungan sosial berjalan lancar ketika ada keseimbangan antara pengorbanan dan imbalan. Jika anak terlalu banyak berkorban tanpa mendapatkan dukungan atau apresiasi, muncul stres, konflik, atau perasaan tidak adil.

Kesimpulanya bahwa generasi sandwich adalah anak atau remaja yang memegang peran penting dalam keluarga, membantu orang tua sekaligus mendukung adik atau anggota keluarga lain. Mereka sering menghadapi tekanan dari tanggung jawab yang besar, baik secara finansial maupun emosional, sehingga pengorbanan mereka kerap luput dari perhatian.

Menurut Teori Pertukaran Sosial George C. Homans, interaksi sosial dipandang sebagai pertukaran antara biaya dan manfaat. Dalam konteks ini, waktu, tenaga, dan kesempatan pribadi yang

dikorbankan generasi sandwich menjadi “biaya”, sementara imbalan berupa pengakuan dan dukungan sering tidak seimbang, yang menimbulkan stres dan beban psikologis. Faktor dari orang tua, lingkungan, dan rasa tanggung jawab pribadi membuat mereka tetap menjalani peran ganda ini.

Oleh karena itu, penting bagi keluarga dan masyarakat untuk memberikan dukungan dan pengakuan yang adil, agar generasi sandwich dapat membantu keluarga tanpa kehilangan kesempatan untuk belajar, bersosialisasi, dan mengembangkan diri secara optimal.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *