Publik” Minta Kejari Lahat Bongkar tuntas rantai kasus dana BOS dan proyek Smart TV di Dinas Pendidikan Kabupaten Lahat.

Jumat, 24 Juli 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Journalnews.id // SUMSEL //Aparat Penegak Hukum (APH) kini didesak untuk memperluas penyelidikan dari kasus pemotongan dana BOS hingga menyisir proyek pengadaan Smart TV di Dinas Pendidikan Kabupaten Lahat. Langkah ini mencuat seiring dengan dipanggil dan diperiksanya sejumlah Kepala Sekolah tingkat SD/SMP serta Kepala Bidang (Kabid) Disdikbud oleh Kejaksaan Negeri Lahat terkait skandal pemotongan anggaran bantuan operasional sekolah.

Publik menilai momentum pemeriksaan kasus dana BOS ini harus dijadikan pintu masuk bagi Kejaksaan maupun Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk membongkar tuntas rantai pengadaan barang digital yang dinilai sarat kongkalikong.

Keterkaitan Kasus Dana BOS dan Desakan Penyelidikan TV Skandal Pemotongan Dana BOS. Berdasarkan investigasi awal, tercium aroma pungutan liar berjamaah di mana dana BOS siswa SMP se-Kabupaten Lahat disunat sebesar Rp25.000 per siswa. Untuk tingkat SD, pemotongan bervariasi antara Rp9.000 hingga Rp11.000 per siswa yang diduga diakomodir oleh oknum internal kepanitiaan di Dinas Pendidikan dan kebudayaan Kabupaten Lahat,Provinsi Sumatera Selatan. Jumat,24 Juli 2026.

Pemerintah Daerah” Bupati Lahat – Wakil Bupati Lahat, untuk mengambil tindakan tegas dan berkoordinasi dengan jajaran Disdikbud untuk mengusut keterlibatan oknum Kabid maupun kepala sekolah yang mengondisikan potongan anggaran pendidikan tersebut.

Urgensi APH Masuk ke Proyek TV: Pemeriksaan para kepala sekolah di Kejaksaan memicu desakan dari berbagai lembaga swadaya masyarakat, seperti Lidikkrimsus RI, agar APH tidak berhenti pada kasus BOS saja. APH diminta segera mengaudit proyek Smart TV (Smart Board) senilai Rp10 miliar lebih karena harga satuannya yang melonjak tidak wajar (-Rp26 juta/unit) serta adanya indikasi pengondisian vendor melalui metode penunjukan langsung.

Jangan sampai Pola Korupsi yang Berulang, Kekhawatiran terbesar publik adalah dana BOS yang dipotong dari tiap sekolah sengaja dikumpulkan sebagai modal “pelicin” atau untuk menutupi beban anggaran pengadaan proyek fasilitas digital fiktif/kelebihan bayar, menyerupai pola yang pernah diungkap oleh KPK di wilayah tetangga (Muara Enim).

Jurnalis: Frengky.as
Bersambung…

Penulis : Fr

Editor : Red

Berita Terkait

Peziarah Diduga Jadi Korban Penipuan di Makom Hakekat Kutawaringin Mande
Diduga Habis Anggaran Rp 6 Miliaran, KPK Didesak Periksa Sekwan dan Bagian Perlengkapan DPRD Lahat
Wujud Kepedulian Sosial, Sat Lantas Polres Kuningan Gelar “Jumat Berkah” Berbagi Makanan Gratis untuk Masyarakat
Gawat APBD Perubahan Lahat Kandas, Bursah Zarnubi dikabarkan kabur terbang ke jakarta
Kakek 82 Tahun di Pekalongan Ditemukan Meninggal di Kebun Singkong Usai 2 Hari Hilang
Diduga blm dilelang MOBDin operasional Suzuki APV Warna Hitam” Jadi milik Pribadi mantan pegawai sekwan Dprd lahat
Kontraktor CV.LGM diperiksa Terkait Dugaan Korupsi Dana Hibah Bawaslu Lahat 6,3 Milyar
Peredaran Miras Diduga Ilegal terbesar di Wilayah Kapetakan Cirebon Bebas berjualan, Kinerja APH dipertaruhkan
Tag :

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊

Berita Terkait

Selasa, 20 Oktober 2026 - 16:47

Peziarah Diduga Jadi Korban Penipuan di Makom Hakekat Kutawaringin Mande

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 10:24

Diduga Habis Anggaran Rp 6 Miliaran, KPK Didesak Periksa Sekwan dan Bagian Perlengkapan DPRD Lahat

Jumat, 16 Oktober 2026 - 21:56

Wujud Kepedulian Sosial, Sat Lantas Polres Kuningan Gelar “Jumat Berkah” Berbagi Makanan Gratis untuk Masyarakat

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 12:00

Gawat APBD Perubahan Lahat Kandas, Bursah Zarnubi dikabarkan kabur terbang ke jakarta

Senin, 28 September 2026 - 09:33

Kakek 82 Tahun di Pekalongan Ditemukan Meninggal di Kebun Singkong Usai 2 Hari Hilang

Berita Terbaru