Cirebon, – Hamparan sawah padi kian menguning di wilayah kabupaten cirebon masih tampak luas saat musim panen tiba. Namun suasana yang dahulu indentik berbondong bondong dengan keramaian para buruh Derep kini perlahan berubah menjadi dentunan mesin.
Suara tawa Buruh tani dan bunyi alat gebot( Geprak) padi tradisional mulai tergantikan oleh dentunan mesin Combine Harvester ( mesin panen padi modern) yang kerja cepat menyisir area pesawahan.
Metode panen tradisonal yang dahulu sepenuhnya mengandalkan tenaga manusia, namun kemudian saat ini berkembang menjadi alat modern seperti mesin grabag dan combine semakin banyak digunakan para pemilik sawah ketimbang dengan tenaga manusia, karena mesin tersebut dianggap mampu mempercepat panen padi dan dapat menjaga kwalitas gabah.
Meski biaya mesin combine cukup menguras keuangan para petani sebesar Rp. 2 juta perbau. Akan tetapi penggarap sawah lebih memilih panen dengan mesin ketimbang tenaga manusia.
Dibalik kemudahan dari panen tersebut ada catatan lain yang di rasakan para Buruh pertanian. Sebagai masyarakat kecil yang dahulu mengandalkan penghasilan berburuh tani. Namun kini hilang pendapatan.
“Dulu sebelum ada alat mesin potong padi tersebut, kami bisa dapat penghasilan tambahan dari hasil berburuh memanen padi, namun saat ini para Buruh tani hanya bisa monoton dan tidak ada penghasilan tambahan, ungkap salah satu perwakilan buruh tani asal desa pegagan kidul, kecamatan kapetakan kabupaten cirebon. Senin (18/05/2026)
” Bagi para Buruh Derep masa panen padi itu, menjdi memeontum penting demi memenuhi kebutuhan keluarga, kini kesempatan tersebut perlahan semakin sempit, seiring berkembangnya teknologi pertanian.
Meski demikian, para Buruh memahami sektor pertanian menajdi bagian dari perkembangan zaman. Yang sulit dihindari, karena itu, para Buruh tani berharap kemajuan teknologi tetap berjalan seiring perhatian terhadap nasib para buruh tani yang terdampak, ” Pungkasnya
Cc. Biro Cirebon











