Cianjur- Tidak adanya jembatan penyeberangan di Sungai Cigonggang Desa Neglasari Kecamatan Agrabinta Cianjur, menyebabkan transportasi dan kegiatan ekonomi warga setempat menjadi terkendala.
Akibat tidak tersedianya jalur penghubung (jembatan) itu, selain dirasakan warga ratusan pelajar mulai dari siswa SD, Madrasah Tsanawiyyah, dan SMK pun dengan terpaksa harus menyeberangi arus sungai yang deras. Tidak heran jika para pelajar pun akhirnya harus bolos sekolah berhari – hari ketika arus Sungai Cigonggang sedang deras dan debit air tinggi.
Bukan tidak ada upaya dari pihak Desa setempat untuk memperjuangkan adanya jembatan tersebut. Kepala Desa Neglasari, Nasihin sudah bosan mengupayakan dengan membuat permohonan kepada Pemkab Cianjur yang tidak mengabulkan permintaanya itu. Ucap Kades pada media (15/10/22).
“Bosan saya mondar mandir ke Dinas terkait Pemda Cianjur dengan membawa proposal permohonan pembangunan jembatan”. Di tambah jarak tempuh saya dari tempat tinggal di Neglasari Agrabinta menuju ke pusat Pemda Cianjur itu bukan jarak yang dekat. Ucap Kades Nasihin dengan lantang.
Bahkan, dikarenakan tidak adanya jembatan penyebrangan itu, hampir tiap tahunnya selalu menelan korban jiwa saat warga menyebrang kemudian terpeleset hingga terbawa arus derasnya sungai.
Terkait hal tersebut diatas, Aliansi Transparansi Cianjur (ATC) angkat bicara. Sangat disayangkan Pemkab Cianjur di bawah kendali Bupati Herman, itu tidak mengabulkan permohonan yang sudah di sampaikan oleh pihak Desa Neglasari Kecamatan Agrabinta Cianjur. Pasalnya dana APBD Cianjur tahun 2022 ini cukup pantastis nilai nya. Ungkap Ketua ATC Hendry Saepul (15/10/22).
Seharusnya Pemkab Cianjur mengindahkan permohonan Desa Neglasari itu, dan menjadi atensi khusus/skala prioritas guna pembangunan jembatan di wilayah Desa Neglasari. Apa lagi informasi dari Kepala Desa setempat, bahwa suka ada korban jiwa pada tiap tahunnya.
Buktikan kinerja nyata dari Program Desa Manjur yang selama ini dilakukan oleh Bupati Herman, dalam menampung aspirasi maupun keluhan warga, termasuk salah satunya permohonan pembangunan jembatan warga Neglasari Agrabinta yang memang lokasinya di Cianjur Selatan. Terang Epul ATC sapaan akrabnya.
Di tempat terpisah, Yanyan Mulyana pemerhati kebijakan pemerintah mengungkapkan, Bupati Cianjur Herman dalam kunjungan kerja dengan program Desa Manjur harusnya memperhatikan keluhan warga, apa lagi keluhan itu di sampaikan langsung oleh Kepala Desa nya. Dan memang permohonan warga Desa Neglasari itu kepentingan umum, yakni jembatan penyebrangan sungai Cigonggang.
Program kerja Desa Manjur jangan hanya dijadikan pencitraan sang Bupati guna kepentingan pribadi dan golongannya. Coba lihat kebutuhan warga yang mendesak/urgent, salah satunya permintaan warga Desa Neglasari Agrabinta.
Bupati Cianjur saya yakin tahu, dimana jarak tempuh Neglasari Agrabinta ke pusat pemerintahan Cianjur itu sangatlah jauh. Harusnya pikirkan soal pembangunan jembatan itu. Jangan sampai menelan korban jiwa terus-terusan. Tegas Yanyan.
Saya perhatikan Bupati Cianjur Herman saat ini, dia sibuk dengan kepentingan politiknya, dimana mau membuat lautan merah Kabupaten Cianjur. Terbukti hampir semua pagar halaman perkantoran dinas hingga Desa-Desa Cianjur di cat merah. Artinya nuansa politis sangatlah kental ketika Bupati Kunjungan ke setiap Desa Manjur.
(ANING)











