Soal SIPEPEK, Pj Bupati Cirebon: Mari Kita Hargai Bahasa Cirebon

- Penulis

Senin, 15 Juli 2024 - 20:30 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

 

Journal news.id.KABUPATEN CIREBON — Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Cirebon tengah mengembangkan aplikasi digital SiPEPEK, setelah menerima berbagai macam respons dan masukan dari masyarakat.

Penjabat (Pj) Bupati Cirebon, Drs H Wahyu Mijaya SH MSi angkat bicara, menjelaskan bahwa setelah mendengar berbagai umpan balik, pemerintah setempat sedang mempertimbangkan untuk mengubah nama aplikasi tersebut. Meskipun demikian, fokus utama tetap pada peningkatan layanan.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Kami sedang menambahkan 24 fitur baru untuk memberikan layanan kesejahteraan yang lebih komprehensif dan inklusif kepada masyarakat Kabupaten Cirebon,” ujarnya, Senin (15/7/2024).

Kemudian ia menambahkan, sebenarnya permasalahan dalam aplikasi tersebut hanya terletak pada penamaannya, yang dianggap kurang etis dan mengandung makna negatif.

Meski demikian, ia menegaskan, sejauh ini masyarakat di Kabupaten Cirebon cenderung tidak mempersoalkan penamaan aplikasi tersebut, karena frasa yang digunakan diambil dari bahasa daerah setempat atau bahasa daerah asli Cirebon.

Ia juga sangat menyayangkan adanya beberapa pihak yang memberikan tanggapan kurang baik pada aplikasi ini. Padahal, penamaan layanan digital tersebut memiliki arti yang jauh dari konteks negatif secara bahasa Cirebon.

“Yang harus sama-sama dipahami, penulisan katanya mungkin sama, tetapi pelafalannya berbeda. Frasa itu artinya lengkap atau semua ada, diambil dari bahasa Cirebon, yakni ‘pepek’. Penggunaannya juga hanya di Kabupaten Cirebon, bukan diperuntukkan secara nasional,” jelasnya.

Wahyu menegaskan, pihaknya tetap menerima masukan dan kritikan terhadap penamaan aplikasi ini, serta tetap menyesuaikannya dengan kebutuhan masyarakat di Cirebon.

“Beda bahasa, beda lafal, bisa berbeda pengertian. Apalagi ini pelafalannya berbeda. Maksud saya, mari kita sama-sama menghargai akar dan budaya bahasa Cirebon. Mari kita sama-sama coba menyesuaikannya,” imbuhnya.

Secara terpisah, Pegiat Budaya Cirebon, Chaidir Susilaningrat mengatakan, selaku pegiat budaya Cirebon mendukung pemilihan kata yang digunakan dalam aplikasi SiPEPEK. Pasalnya, ‘pepek’ sendiri merupakan bahasa asli Cirebon yang memiliki arti lengkap atau semuanya ada.

“Sebenarnya bagus itu (kata pepek), menggunakan bahasa asli Cirebon yang artinya lengkap,” kata Chaidir.

Ia pun meminta kepada semua pihak, untuk bisa menghargai masing-masing bahasa daerah, yang memang perlu dipertahankan dan dilestarikan.

Terlebih lagi, kata ‘pepek’ sendiri dinilai kontroversi, karena banyak pihak yang menyerap dari bahasa daerah lain, sehingga dinilai mengandung seksisme.

“Adapun dianggap aneh, karena banyak yang menilai dari arti bahasa daerah lain, sehingga dinilai mengandung pornografi,” tuturnya.

“Saya tegaskan, setiap daerah punya bahasa masing-masing. Kalau di Cirebon, kata ‘pepek’ itu artinya lengkap,” jelasnya.

Secara tegas, selaku pegiat budaya, dirinya mendukung penuh penggunaan kata ‘pepek’ pada penamaan aplikasi yang diluncurkan oleh Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Cirebon ini. Karena dengan menggunakan kata tersebut, sekakigus bisa mempopulerkan bahasa asli Cirebon.

“Saya sangat mendukung, kalau kata ‘pepek’ tidak dipopulerkan untuk nama aplikasi, maka bahasa daerah bisa saja punah,” ucapnya.

Dirinya selaku pegiat budaya, meminta kepada semua pihak untuk bisa menghargai bahasa daerah terutama bahasa Cirebon. Pasalnya, penggunaan kata pepek tersebut sebagai bagian dari upaya untuk melestarikan bahasa Cirebon.

“Sudah bagus Dinsos pakai kata ‘pepek’ sebagai nama aplikasi, karena berarti sudah ikut melestarikan budaya Cirebon.’Pepek’ memiliki arti yang bagus untuk sebuah nama aplikasi,” tukasnya.

“Pemda harus mempertahankan kata ‘pepek’ itu dalam aplikasi, tapi harus juga menjelaskan makna ‘pepek’ secara lengkap dan utuh, agar tidak salah kaprah,” tambahnya.

Terlebih lagi, kata ‘pepek’ bukan hanya sebatas akronim dalam aplikasi tersebut, melainkan juga sebagai penjelas bahwa fungsi aplikasi tersebut memiliki fitur lengkap dalam menyediakan layanan kesejahteraan yang komprehensif dan inklusif bagi seluruh masyarakat.

“Perlu diingat, huruf ‘E’ dalam bahasa daerah punya pelafalan yang berbeda. Jadi, jangan dipelintir lagi menjadi arti kata yang aneh-aneh soal aplikasi SiPEPEK,” pungkasnya.

Sana

Berita Terkait

SDN I Karang wangi Gelar Pelepasan Siswa dan Siswi Kelas VI dengan Tampilkan pentas Seni dan Kreasi Anak
Baharudin Raih Suara Terbanyak dalam Pemilihan Kuwu PAW Desa Kedongdong Kidul
PEMBANGUNAN FISIK JELANG PILKADES: KERJA NYATA ATAU STRATEGI PETAHANA?
Peringati Hari Jadi Kota Cirebon dan Hari Donor Darah Sedunia, PMI Kota Cirebon Gelar Gebyar Donor Darah
DARI EKOLOGI PEMBERONTAKAN, QUARTUS POLITICA HINGGA LAHIRNYA GAGASAN GERAKAN OPOSISI DI TINGKAT AKSI
UPK Mande Salurkan Santunan untuk 958 Anak Yatim Sambut 1 Muharam 1448 H
Polsek Wiradesa Gagalkan Aksi Tawuran, 11 Remaja Diamankan Sebelum Bentrok di Pekuncen
Dukung Ketahanan Pangan, Satlantas Polres Kuningan Berikan Bantuan Pupuk bagi Petani Desa Cibulan
Berita ini 1 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊

Berita Terkait

Kamis, 18 Juni 2026 - 10:52 WIB

SDN I Karang wangi Gelar Pelepasan Siswa dan Siswi Kelas VI dengan Tampilkan pentas Seni dan Kreasi Anak

Kamis, 18 Juni 2026 - 10:26 WIB

Baharudin Raih Suara Terbanyak dalam Pemilihan Kuwu PAW Desa Kedongdong Kidul

Kamis, 18 Juni 2026 - 08:26 WIB

PEMBANGUNAN FISIK JELANG PILKADES: KERJA NYATA ATAU STRATEGI PETAHANA?

Rabu, 17 Juni 2026 - 21:02 WIB

Peringati Hari Jadi Kota Cirebon dan Hari Donor Darah Sedunia, PMI Kota Cirebon Gelar Gebyar Donor Darah

Rabu, 17 Juni 2026 - 14:59 WIB

DARI EKOLOGI PEMBERONTAKAN, QUARTUS POLITICA HINGGA LAHIRNYA GAGASAN GERAKAN OPOSISI DI TINGKAT AKSI

Berita Terbaru