Politik

Rizal – Puan Menjadi Momok bagi Anies-AHY

74
×

Rizal – Puan Menjadi Momok bagi Anies-AHY

Sebarkan artikel ini

JAKARTA – Webinar P3S dengan mengambil tema ‘Rizal- Puan Sepadan Anies- AHY’ dilakukan secara daring pada Kamis (16/3/2023).

Anthony Budiawan menyoroti keadaan di Indonesia saat ini jelas telah terjadi aliran dana yang bersumber dari PPATK ratusan miliaran namun tidak ada tindakan kongkret.

Advertisement
Scroll kebawah untuk lihat konten

“Tingkat kemiskinan di Indonesia semakin meningkat. Undang-undang Cipta kerja yang didasarkan pada kondisi APBN yang katanya buruk namun kenyataan surplus,” katanya.

Anthony Budiawan mengimbau partai politik untuk mementingkan kepentingan yang sangat besar yakni kesejahteran rakyat Indonesia bukan berdasarkan kelompok.

“Mengundang Partai Politik untuk memikirkan kebangsaan, meningkatkan kesejahteraan Indonesia. Indonesia banyak orang miskin dengan pendapatan di bawah Rp500 ribu dengan jumlah 26,36 juta orang,” lanjutnya.

Ia mengatakan kritik itu objektif atau tidak. Elektabilitas bukan sistem lagi suatu pembentukan opini calon presiden adalah populer dengan elektabilitas 35- 45 lebih.

“Bagaimana elektabilitas tinggi namun tidak diimbangi dengan visi misi. Sampai sekarang kita belum mendengar visi misi dari calon. Elektabilitas pencitraan tanpa didengar visi dan misi bagaimana bisa mensejahterakan masyarakat,” jelas Anthony Budiawan.

“Sistem politik harus dirubah agar kedaulatan di tangan rakyat. Dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Sehingga calon pemimpin yang berkualitas bisa menjadi calon presiden dan wakil presiden,” terangnya.

Selain itu jelas Anthony, Rizal Ramli tokoh yang cerdas dan mampu membaca dan menjawab persoalan bangsa.

Jerry Massie menjelaskan bahwa ‘antitesa’ Jokowi Duet Rizal- Puan lawan sepadan dengan Anies- AHY. Rizal Ramli merupakan tokoh yang bisa memberikan perbaikan Indonesia saat Indonesia. Keberpihakan pada rakyat semoga duet alternatif bisa terjadi di Pilpres 2024.

“Rizal Ramli ekonom Indonesia yang dekat dengan Megawati, apalagi Rizal termasuk guru ekonominya Megawati. Barangkali secat Psikologi politik, Mega tahu kemampuan Rizal. Pemilih akan mendapatkan pilihan-pilhan yang terbaik. Namun hal tersebut sangat tergantung dari partai- partai politik apakah mau mencalonkan. Kalau parpol membuka diri bisa saja sesuatu yang dipandang mustahil hari ini duet Rizal- Puan bisa terwujud,” jelas Jerry Masie.

Lanjut kata peneliti politik Amerika ini, Rizal mewakili kalangan ekonom/male dan Puan mewakili female/gender yakni 30 persen suara pemilih.

“Ronald Reagen saja hanya dari kalangan Selebritas Amerika tapi bisa jadi presiden, apalagi Rizal Ranli salah satu ekonom ulung dalam survei di helo mengalahkan Budiono, Sri Mulyani dan Faisal Basri

Dr. Reza Hariyadi memberikan komentar duet Rizal Ramli dengan Puan. Perjudian atau nama tepat, menjawab mekanisme elektoral yang terasa sekarang dengan liberal keinginan yang dipersepsi dikontruksi oleh Partai Politik konsuktan politik menjadi hal pilihan menjadi terbatas.

“Popularitas, elektabilitas dan dukungan. Realitas politik saat ini, partai politik tahun 2024 harus menjadi agen perubahan sehingga kualitas presiden dan wakil presiden dengan visi dan misi membangun Indonesia.

Pilihannya hanya terbataa pada calon-calon yang selalu diekspos oleh media masaa dan dirating oleh lembaga survei. Seperti dalam framing pencitraan.

“Sulit dan tidak menarik namun justru sangat penting untuk membangkitkan kembali gagasan alternatif dan calon alternatif. Untuk menimbulkan alternatif. menjadi relawan munculnya Rizal Ramli yang menimbulkan gagasan alternatif. Mengisi kekosongan publik agar keluar dari arus yang berkembang,” jelasnya.

Kembali ke realitas elektoral yang dominan, ia mengatakan mantra ajaibnya, popularitas, elektabilitas dan dukungan, sehingga sulit untuk bersaing di kontestasi demokrasi yang sangat liberal.

“Jika ada Parpol yang mengambil sikap politik yang tidak populer untuk mencari alternatif. Bisa PDI Perjuangan, Golkar atau partai lain sehingga bisa menghadirkan calon alternative,” ujarnya.

PDI P mempunyai golden tiket sehingga wajar belum mengambil sikap. Semua akan menunggu situasi politik terakhir di PDI Perjuangan tidak bisa keluar dari persaingan elektoral.

“PDI mempunyai golden boy yakni Ganjar Pranowo kader partai yang mempunyai elektoral tinggi. PDI Perjuangan sentralistik, Ketua Umum mempunyai kemampuan untuk memilih calon Presiden,” katanya.

“Sebelum menit- menit terakhir atau last minute semua bisa terjadi. Kewengan Ketua Umum Megawati untuk memilih calon presisden dan wakil presiden yang sangat strategis bagi PDI Perjuangan sehingga setelah reformasi jika surat pencalonan sudah sampai di KPU. Drama politik 2014 dan 2019 dengan drama-drama dalam last minute,” jelas Reza.

“Membangun komunikasi politik dengan PDI Perjuangan. Rizal Ramli harus mendekat ke PDI Perjuangan. Jantung kekuasaan di PDI yakni Megawati. Suka tidak suka elektabilitas, popularitas dan dukungan suara. Terjadi pada level pemilihan kepala daerah. Transisi perilaku pemilih lebih mempertimbangkan rekam politik, kualitas bukan hanya didasarkan kontruksi realitas,” jelas Reza.

Rikardo Marbun sebagai moderator menyimpulkan bahwa, kerja keras presiden terpilih untuk mengurangi tingkat kemiskinan. Ketimpangan anatara yang kaya dan miskin. Cendekiawan harus bersuara.

Muslim Arbi mengatakan pemenang Pilpress 2019 Pak Jokowi petugas partai. Harus dirubah walaupun yang bekerja mesin partai.

“Jika sudah jadi Presiden harus mengabdi pada Negara. Mind set harus dirubah. Parpol gagal dalam kaderisasi sehingga untuk menjadi pemimpin dari kader partai lain. Kesadaran bersama untuk memperbaiki sistem demokrasi,” ujarnya.

“Rakyat tidak berdaulat namun partai politik yang berdaulat. Harus dirubah mind set. Jika menang jangan hanya partai politik yang dipentingkan. Apakah bisa dijamin pemilu bisa diagendakan sesuai dengan jadwal dari KPU. Diskusi menarik walaupun hanya berwacana saja,” tutup Muslim Arbi. (Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *