Daerah

Kisah Pilu Petani Tua yang tetap bertahan dari gempuran proyek Pembangunan perumahan di Rajamandala

516
×

Kisah Pilu Petani Tua yang tetap bertahan dari gempuran proyek Pembangunan perumahan di Rajamandala

Sebarkan artikel ini

Bandung Barat – Alih fungsi lahan pertanian terus terjadi menjadi kawasan industri dan perumahan,meskipun sudah ada Undang-undang yang mengatur larangan alih fungsi lahan pertanian.
Abudin (58),dan beberapa petani lainnya di Kp.Warung tiwu,Desa Rajamandala Kulon Kecamatan Cipatat,Kabupaten Bandung Barat menolak untuk menjual lahan pertanian kepada pengembang perumahan yang sedang gencar membangun kompleks perumahan diwilayah tersebut.
Bersama dengan beberapa petani lainnya, dia mengelola lahan produktif (sawah dan kolam ikan) dan masih mempertahankannya meski sudah banyak lahan pertanian yang telah beralih fungsi menjadi kompleks perumahan.
Abudin mengatakan dengan tegas tidak akan menjual lahannya karena ketika dijual kepada pengembang perumahan dia akan kesulitan untuk mendapatkan lahan pengganti.Sabtu,18 Maret 2023
“moal di ical,keur naon da gaduh artos mah,keur naon da dipeserkeun ge ayeuna abi ngajual 2.8 juta ari meser 5 juta rek kumaha”.tuturnya
Dia sangat menyayangkan adanya pembangunan kompleks perumahan di lahan produktif padahal menurutnya masih banyak lahan kosong yang bisa dibangun untuk perumahan.
“abimah jengkel weh,jengkel namah tanah produktif,lamun kebon eurih alang-alang mah teu jadi masalah,ini masih bagus tanahnya”.Ungkapnya
Disinggung soal dampak negatif,abudin pernah mengalami gagal panen ikan lele pasalnya kolam ikan miliknya tercemar limbah cat pembangunan perumahan.
“lele saya habis kena limbah cat,3.000 ekor lebih ikan lele mati,yang nyuci rolan airnya kesini masuk”pungkasnya
Cerita pilu juga dialami Asep Rasmala (55) petani asal Kp.Warung tiwu RT 02 RW 15 Desa Rajamandala Kulon kehilangan lahan sawah dan mata pencahariannya setelah ada pembangunan perumahan.
Lahan sawah miliknya terpaksa di jual ke pengembang perumahan dengan alasan tidak ada lagi akses air yang masuk ke sawahnya,padahal dia sangat menggantungkan hidupnya dari bertani dan menggarap sawah milik orang lain.


“nu paman,nu rayi,nu raka digarap ku abi sawah nateh matak abi betah oge,saparantos di arical nu abi mah moal di ical ngan anu pas katonggoh na nu ka cai akses cai teu aya ceut…sapertos nu abi di ical teh kusabab teu aya cai”.ungkapnya
Ironisnya tak hanya kehilangan lahan sawah,ia harus menerima kenyataan pahit rumah yang ditempatinya di kepung tembok beton pembatas perumahan,sehingga akses keluar masuk ke rumahnya menjadi terbatas.
Penderitaan Asep tak sampai disitu,rumahnya tak lagi di aliri listrik dikarenakan diputus sementara oleh pihak pengembang dikarenakan adanya proyek pembangunan Perumahan,air untuk kebutuhan sehari hari pun ikut hilang juga.
“teu aya niat bade ngajual bumi,hoyong bumi didinya weh sareng sawah.tos turun temurun ti kapungkur bumi didieu”Pungkasnya.

Advertisement
Scroll kebawah untuk lihat konten


Perasaan sedih terus menyelimuti Asep Rasmala dan istri,pasalnya dalam benak mereka tidak pernah membayangkan akan terjadi hal seperti ini,sawah terpaksa di jual,rumah di kepung pagar tembok beton pembatas perumahan,listik rumah padam dan air untuk kepeluan rumah tangga hilang.
“Sedih karena kita teu ngabayangkeun bade kitu kieu na,matak ayeuna sanaos bumi teu aya lampuan pami bobo diditu ge ku lilin weh”.Pungkas istri asep rasmala

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *