Berita

Berhenti Sekolah Sejak Kelas 5 SD, Seorang Anak Tunawicara Tercatat Sebagai Penerima PIP di Salah Satu SMP, Orang Tua Khawatir Data Disalahgunakan

56
×

Berhenti Sekolah Sejak Kelas 5 SD, Seorang Anak Tunawicara Tercatat Sebagai Penerima PIP di Salah Satu SMP, Orang Tua Khawatir Data Disalahgunakan

Sebarkan artikel ini

 

Cianjur || Seorang anak yang tidak pernah mendaftar ke SMP tiba – tiba namanya tercatat sebagai penerima bantuan Program Indonesia Pintar (PIP) di salah satu SMP di Kecamatan Karangtengah.

Advertisement
Scroll kebawah untuk lihat konten

Hal itu terungkap setelah orang tua siswa tersebut melakukan pengecekan PIP di aplikasi resmi Sipintar.

Padahal, menurut keterangan orang tuanya, MI sudah tidak bersekolah sejak kelas 5 SD. MI yang berkebutuhan khusus karena kesulitan bebicara ( Tunawicara ) berhenti bersekolah dan memilih membantu orang tuanya.

” Sudah tidak bersekolah sejak kelas 5 SD, SD Mande 6 dulunya,” tutur orang tua MI, di rumahnya, Selasa, (27/1/26).

Ditanya mengenai apakah pernah mendaftar ke SMP, Orang tua MI, menerangkan bahwa anaknya dan dirinya tidak pernah mendaftar di SMP manapun.

” Tidak pak, saya tidak pernah mendaftarkan anak saya ke SMP, karena anaknya belum mau melanjutkan sekolah, apalagi ke SMP terus SMPnya jauh lagi,” ungkap orang tua MI.

Adanya hal itu, orang tua MI merasa tidak terima karena data anaknya digunakan tanpa sepengetahuannya, apalagi MI terdaftar sebagai penerima PIP dan tercatat sudah dua kali mendapatkan bantuan di SMP tersebut.

” Ya, saya tidak terima pak data anak saya digunakan seperti ini, saya kecewa sekali pak, saya meminta pertanggunghawaban dari pihak pihak yang bersamgkutan, saya ingin tahu kenapa data anak saya bisa ada di SMP, kalau saya tidak melakukan pengeckan mungkin bisa saja dan hawatur seterusnya data anak saya digunakan, saya meminta tolong agar ini jelas siapa dan kenapa data anak saya bisa ada di SMP yang alamatnya jauh dari rumah saya, ” pungkasnya.

Sementara Kepala SDN Mande VI, Pipih, merasa terkejut mendengar bahwa MI tercatat sebagai penerima bantuan PIP di salah satu Sekolah Menengah Pertama. Sementara pihak sekolah sediri tidak pernah mendaftarkan MI kejengjang SMP.

” Justru dengan adanya kasus ini bahwa MI ada disalah satu SMP kami kaget juga karena secara resminya kelembagaan yang namanya MI itu tidak pernah daftar untuk mendatangani atau Sidik jati Ijazah sehingga sampai saat inipun tidak pernah diambil. Saya sebagai kepala sekolah nya secara keseluruhan belum menandatangani nama itu, belum membaca nama itu mengambil, kan ada laporan bahwa ini diambil diserahterimakan, serahterimanya belum pernah ada, kemudian oleh guru kelasnya sendiri yang menanganinya belum pernah mengantarkan anak untuk mendaftarkan anak tersebut ke sekolah yang sekarang,” tuturnya.

Kepala sekolah mengupayakan akan segera mengkonfirmasi pihak keluarga MI, agar jelas siapa yang telah memasukan data nya terdaftar di Sekolah tersebut.

” Iya nanti akan diupayakan untuk mengklarifikasi ngobrol ke orangtuanya mempertanyakan dari mana bisa masuknya, dari mana rekomendasinya, ya mungkin itu, mereka juga tidak bisa masuk sekonyong konyong pasti ada yang merekomendasikan, apalagi anak yang berkebutuhan khusus setidaknya pasti ada yang memotivasi mendorong, orang yang lebih paham, ” terangnya.

Terpisah salah seorang guru Sekolah Menengah Pertama yang dimagsud, Irfan Maulana, menyampaikan bahwa pihaknya akan berkunjung ke rumah MI untuk memastikan data yang dipertanyakan.

” Akan berkunjung ke rumahnya, makanya saya minta alamat rumahnya dan nanti akan dilakukan pengecekan,” katanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *