Berita

Bongkar Besarnya Anggaran DISBUN LAHAT Ta: 2024-2025″ Minta APH UJi Petik Program dan Kegiatan!!

85
×

Bongkar Besarnya Anggaran DISBUN LAHAT Ta: 2024-2025″ Minta APH UJi Petik Program dan Kegiatan!!

Sebarkan artikel ini

 

Media Group

Advertisement
Scroll kebawah untuk lihat konten

JOURNALNEWS.ID
LAHAT // Dugaan korupsi anggaran belanja untuk tahun anggaran 2024, dan 2025 mencuat ke publik Dugaan adanya indikasi keterlibatan orang dalam serta praktik yang tidak transparan dalam pengelola Anggaran APBD, di tubuh Dinas perkebunan Kabupaten Lahat, dari tahun 2024-2025 pelaksanaan proyek, penyaluran dana hibah tersebut.

Berdasarkan data yang dihimpun anggaran belanja Langsung dan belanja tidak langsung tahun 2024 untuk program, kegiatan Dinas perkebunan Pemkab Lahat realisasi anggaran Sbb :

1•Belanja langsung
Rp32,784.047.077 miliar

2•Belanja tidak langsung
Rp74,079.563.467 miliar,

Jumlah total sebesar :
Rp106.863.610,544 miliar dipertanyakan?

Diduga melibatkan kerabat dari pejabat Dinas disbun. Dugaan adanya semakin memperkuat indikasi persekongkolan dalam pengelolaan dana hibah poyek tersebut.

“Kami melihat adanya aroma persekongkolan yang jelas dalam pelaksanaan proyek ini.
Berdasarkan laporan masyarakat Pekerjaan proyek jalan lingkar desa benua raja yang dikerjakan pihak kontraktor CV.LAND KONTRUCSION dari Kota Pagaralam Isial J,
Dengan nilai Pagu Rp: 951.076,000,- tidak sesuai dgn RAB jau dari kata sempurna.

Sebagai langkah awal, akan mengajukan surat laporan informasi kepada pihak APH terkai adanya dugaan praktek korupsi pada Dinas perkebunan Lahat anggaran
TA: APBD 2024 – 2025 berdasarkan data yang kami rangkum.

“Kami berharap kasus ini dapat segera diproses agar tindak lanjuti, berlarut-larut. Transparansi dan akuntabilitas harus ditegakkan demi kepentingan masyarakat,” Red

Kasus ini menjadi perhatian publik mengingat besarnya anggaran belanja yang dialokasikan untuk dana hibah dana tersebut harus ditelusuri program-program kegiatan Dinas perkebunan Lahat tahun 2024-2025.”Kamis,04/26.

“Sekedar mengingatkan Hati-hati dalam mengelola uang negara, salah langkah bisa masuk penjara “Dana hibah sangat sesitif.*(Fr.as) Bersambung

 

𝙱𝚎𝚛𝚒𝚝𝚊 𝚜𝚞𝚍𝚊𝚑 𝚝𝚊𝚢𝚊𝚗𝚐
Anggaran belanja Rp89,7 Miliar Diduga Tak Transparan, Dana Hibah Rp60 Miliar Lebih dipertanyakan” Kadin Disbun minta musnahkan Data

JOURNALNEWS.ID
JAKARTA || Ketua LBH KA LAW FIRM meminta kepada pihak APH (Aparat Penegak Hukum) di wilayah Sumatra Selatan agar turun Audit pengunaan anggaran belanja di lingkungan Pemkab Lahat pada dinas perkebunan menggunakan APBD TA.2025

Anggaran belanja mencapai puluhan milyar ini tidak bisa dibiarkan tanpa penjelasan dan rinciannya harus jelas dalam merealisasikan. Publik berhak tahu, uang puluhan miliar itu mengalir ke mana, untuk siapa, dan dibelanjakan apa-apa saja “tegasnya,(14 April 2026)

terkait adanya dugaan mengara pada tindak pidana Korupsi Kolusi dan Nepotisme (KKN), temuan ini harus ditindaklanjuti oleh pihak APH dan harus diberi pelajaran kepada Oknum-oknum yang tidak bertangungjawab dalam mengelola uang negara.

Berdasarkan Undang-Undang pemberantasan tindak pidana korupsi ( khususnya UU No. 31 Tahun 1999 yang diubah dengan UU No. 19 Tahun 2019 tentang KPK), Aparat Penegak Hukum APH yang terdiri dari Kepolisian, Kejaksaan, dan Komisi Pemberantasan korupsi ( KPK ) untuk melakukan Audit penyelidikan, serta pandalaman atas hasil temuan ini.

Ketua LAW FIRM, KA berharap segera APH melakukan audit Pengelolaan anggaran belanja yang jumlahnya total mencapai Rp 89.751.219.532,3 Milyar Itu, belanja hibah Rp 60,2 milyar lebih, belanja pengadan kendaraan dinas oprasional lapangan Rp 472 juta serta bantuan hibah dari dinas perkebunan provinsi Sumatera Selatan Rp 41 juta (2 unit kendaraan roda dua) hasil temuan BPK tahun 2023, kita juga minta APH untuk melakukan pengecekan fisik terhadap jumlah aset di dinas perkebunan. Sejumlah anggaran belanja kegiatan dinilai banyak kejangalan??

‎‎Sorotan paling kuat tertuju pada belanja hibah yang menembus Rp60,miliar, belanja kendaraan dinas Oprasional lapangan Rp472 juta angka yang mendominasi total anggaran dan kini diduga menjadi titik rawan penyimpangan.

‎”‎Adapun rincian anggaran yang disorot meliputi:

‎Belanja barang dan jasa: Rp23,7 miliar

‎Belanja hibah: Rp60,2 miliar

‎Belanja modal peralatan dan mesin: Rp830 juta

‎Belanja gedung dan bangunan: Rp206 juta


‎Total keseluruhan mencapai Rp89,75 miliar.

‎Menurut KA, SH, pola penyaluran dana hibah yang terkesan tertutup menimbulkan dugaan adanya ketidaksesuaian antara perencanaan dan realisasi di lapangan.

‎”Jika benar penyalurannya tidak transparan, ini bukan sekadar persoalan administrasi, tapi bisa masuk ke ranah penyimpangan anggaran, ” ujarnya.

‎Ia juga menegaskan bahwa praktik seperti ini berpotensi melanggar Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik, yang menjamin hak masyarakat untuk mengetahui penggunaan anggaran negara.

‎Lebih jauh, dugaan tersebut juga dinilai bertentangan dengan Peraturan Pemerintah Nomor 12 Tahun 2019, yang secara tegas mengatur bahwa pengelolaan keuangan daerah harus dilakukan secara transparan, efisien, dan bertanggung jawab.

‎Dengan nilai anggaran yang sangat besar dan dugaan minimnya keterbukaan, desakan pun menguat agar Aparat Penegak Hukum (APH) segera turun tangan.
‎Kami mendesak APH di Sumatera Selatan untuk tidak tinggal diam. Audit menyeluruh harus segera dilakukan, khususnya terhadap dana hibah tahun 2024–2025,” tegasnya.

“‎Isu ini kini menjadi perhatian publik. Jika tidak segera dijelaskan secara terbuka, bukan tidak mungkin kepercayaan masyarakat terhadap pengelolaan keuangan daerah akan semakin terkikis. ”

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik (UU KIP), anggaran Kepala Dinas, yang merupakan bagian dari Badan Publik yang menggunakan APBD/APBN, wajib dikelola dengan prinsip transparansi dan akuntabilitas.

Kamis,(02 April 2026) langsung minta tangapan mengkonfirmasi kepala dinas perkebunan Lahat Vivi Anggraini, S.STP..terkait anggaran belanja tersebut dgn jwbn singkat Seoala-olah tidak mau tau atau pura-pura tidak tau!

“Terimakasih infonya yo.

Redaksi media ini masih menunggu penjelasan resmi dari pihak terkait dan membuka ruang klarifikasi demi keberimbangan informasi untuk kepentingan asupan publik.*(Fr.as)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *