Berita

Curug Ciranca, Surga Tersembunyi di perbukitan Dukupuntang

56
×

Curug Ciranca, Surga Tersembunyi di perbukitan Dukupuntang

Sebarkan artikel ini

Journal news. id. KABUPATEN CIREBON — Kabut tipis masih menggantung di sela perbukitan ketika langkah demi langkah mulai menapaki jalan setapak yang membelah ilalang.

Suara gemericik air terdengar samar dari kejauhan, bersahut dengan desir angin yang mengusap pucuk-pucuk daun.

Advertisement
Scroll kebawah untuk lihat konten

Di sepanjang perjalanan, hamparan sawah membentang seperti permadani hijau yang belum selesai ditenun. Sesekali, suara burung liar memecah sunyi.

Jalanan kecil yang melintasi Desa Girinata, Desa Cipanas hingga ke Desa Kedongdong Kidul perlahan membawa siapa pun menjauh dari hiruk-pikuk kota, menuju sebuah tempat yang seolah disembunyikan alam dengan sengaja.

Di balik jalur penjejakan (tracking) yang cukup menantang itulah, Curug Ciranca berdiri tenang di Desa Kedondong Kidul, Kecamatan Dukupuntang, Kabupaten Cirebon.

Air terjun setinggi sekitar 30 meter itu jatuh deras dari tebing batu yang kokoh dan gelap. Dari kejauhan, aliran airnya tampak seperti sehelai kain putih panjang yang dijatuhkan dari langit perbukitan.

Percikan airnya membentuk kabut halus yang beterbangan, membasahi dedaunan liar di sekitarnya.

Tak ada gemerlap lampu wisata atau deretan bangunan modern di tempat ini. Curug Ciranca justru memikat karena kesederhanaannya.

Alam dibiarkan tumbuh dengan caranya sendiri. Tebing-tebing batu menjulang tanpa sentuhan berlebihan, akar-akar pohon menggantung liar, sementara sungai kecil di bawah curug terus mengalir jernih membelah bebatuan.

Langkah menuju titik air terjun memang bukan perjalanan singkat yang mudah. Setelah kendaraan diparkir di sekitar permukiman warga atau area kantor desa, perjalanan harus dilanjutkan dengan berjalan kaki melewati jalan setapak, pematang sawah, hingga pinggiran sungai.

Beberapa bagian jalur bahkan cukup licin, terutama selepas hujan. Namun, justru di situlah pengalaman itu terasa utuh.

Setiap pijakan seperti mengajarkan cara menikmati perjalanan dengan lebih perlahan. Tak sedikit pengunjung yang berhenti sejenak hanya untuk mengatur napas sambil memandang perbukitan hijau yang mengelilingi kawasan tersebut.

Ada juga yang sengaja duduk di batu-batu sungai, membiarkan suara alam mengambil alih percakapan.

Curug Ciranca kini sering disebut sebagai “hidden gem” oleh para pelancong lokal. Lokasinya yang tersembunyi membuat tempat ini tetap terasa alami. Tidak banyak perubahan yang menghilangkan karakter aslinya.

Airnya pun dikenal sangat segar, karena berasal langsung dari mata air pegunungan.

Bagi sebagian orang, Curug Ciranca bukan hanya tempat wisata, melainkan ruang untuk beristirahat dari kebisingan hidup sehari-hari.

Di bawah suara air yang jatuh tanpa henti, waktu terasa berjalan lebih lambat. Telepon genggam kehilangan daya tariknya. Orang-orang datang bukan untuk tergesa-gesa, melainkan untuk diam, mendengar, dan merasakan.

Nana Surana, Penjabat Kuwu Desa Kedondong Kidul mengatakan, Curug Ciranca selalu ramai dikunjungi, terutama saat akhir pekan tiba.

“Setiap akhir pekan Curug Ciranca ramai dikunjungi pengunjung untuk menikmati keindahan alamnya,” ujar Nana saat ditemui, Jumat (8/5/2026).

Menurut Nana, banyak pengunjung datang dari berbagai daerah di sekitar Kabupaten Cirebon untuk menikmati suasana alam yang masih asri.

Sebagian besar sengaja mencari tempat yang jauh dari keramaian wisata modern.

Meski demikian, akses menuju curug tetap menjadi perhatian penting bagi pengunjung. Jalur tracking yang alami membuat wisatawan perlu mempersiapkan diri sebelum datang.

“Pengunjung yang akan ke Curug Ciranca diimbau untuk menggunakan sepatu atau sandal gunung tracking,” kata Nana.

Saran itu bukan tanpa alasan. Beberapa jalur dipenuhi ilalang dan batu-batu licin. Namun bagi para pecinta alam, medan seperti itu justru menghadirkan sensasi petualangan yang sulit ditemukan di tempat lain.

Di sekitar kawasan curug, pengunjung biasanya membawa bekal sendiri. Ada yang menikmati makan siang sederhana di atas batu sungai, ada pula yang hanya duduk menikmati kopi hangat sambil memandangi aliran air.

Anak-anak muda kerap mengabadikan momen dengan kamera, sementara sebagian lainnya memilih bermain air di tepian sungai yang dangkal.

Meski belum berkembang menjadi destinasi wisata besar, Curug Ciranca perlahan mulai dikenal luas melalui cerita dari mulut ke mulut dan media sosial.

Foto-foto tebing batu serta aliran airnya yang megah sering muncul di lini masa para pelancong.

Bagi masyarakat Desa Kedondong Kidul, kehadiran Curug Ciranca menyimpan harapan tersendiri. Alam yang selama ini mereka jaga, diharapkan dapat memberi manfaat ekonomi tanpa harus kehilangan keasriannya.

“Kami berharap Curug Ciranca ini menjadi destinasi wisata yang mampu mendongkrak ekonomi Desa Kedondong Kidul,” pungkas Nana.

Harapan itu terdengar sederhana, tetapi mengandung makna yang besar. Sebab di tengah cepatnya perubahan dan derasnya pembangunan, tempat-tempat seperti Curug Ciranca mengingatkan bahwa alam bukan sekadar objek untuk dikunjungi, melainkan ruang yang perlu dijaga bersama.

Menjelang sore, cahaya matahari perlahan menyelinap di sela pepohonan. Air Curug Ciranca masih jatuh dengan suara yang sama—tenang, deras, dan setia mengisi sunyi perbukitan Dukupuntang.

Orang-orang mulai beranjak pulang dengan langkah pelan, membawa baju yang basah oleh percikan air dan hati yang terasa sedikit lebih ringan.

Mungkin, memang seperti itulah cara alam bekerja. Ia tidak banyak bicara, tetapi selalu tahu bagaimana membuat manusia pulang dengan perasaan yang berbeda.

Sana

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *